BERITA

Mari Belajar Menjadi Pegawai yang Amanah

Palopo, kppnpalopo.net – Menjadi seorang pegawai atau karyawan pada hakikatnya adalah sebuah bentuk pengabdian. Terlebih lagi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), ia bukan hanya sekedar mengabdi pada instansi tempat ia bernaung, lebih jauh lagi ia adalah seorang abdi Negara, abdi masyarakat.

 

Terlebih lagi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), ia bukan hanya sekedar mengabdi pada instansi tempat ia bernaung, lebih jauh lagi ia adalah seorang abdi Negara, abdi masyarakat. Dan di pundak seorang pegawai, di satu sisi ada Hak yang pantas ia peroleh, dan di sisi lainnya ada pula Kewajiban yang harus ia penuhi. Namun sungguh sebuah ironi, mayoritas pegawai di jaman sekarang lebih berambisi menuntut haknya tapi melupakan apa-apa yang telah menjadi kewajibannya.

Amanah... satu hal yang semestinya dijaga dengan baik oleh para pegawai, satu kata yang semestinya dipegang erat-erat, digigit kuat-kuat dengan gigi geraham mereka, kini bagaikan buih di lautan.

Amanah... bukan hanya sekedar tuntutan serta konsekuensi logis menjadi seorang pegawai, tapi lebih tinggi lagi, ia adalah sebuah perintah agama yang bernilai luhur. Lewat tulisan ini, kami hendak mengingatkan -terkhusus kepada para pegawai- akan arti penting menjaga amanah dalam menjalankan tugas kesehariannya, serta menjauhi sikap khianat atas tanggung jawab yang telah dibebankan kepada kita. Di bawah ini adalah beberapa perkara yang yang bisa menjadi pelajaran bagi kita agar bisa menjadi pegawai yang amanah.

 

1. Pegawai yang Menunaikan Pekerjaannya dengan Sungguh-sungguh dan Dilandasi dengan Niat yang Ikhlas, Maka Baginya Pahala di Dunia dan Akhirat.

Di antara perkara yang telah banyak dilupakan oleh kebanyakan orang, bahwa apapun pekerjaan yang kita lakukan untuk menafkahi keluarga, maka pekerjaan itu akan bernilai pahala jika kita niatkan sebagai bentuk ibadah, serta dikerjakan dengan penuh keikhlasan dan sungguh-sungguh. Tidak terkecuali bagi mereka para pegawai. Apabila seorang pegawai menjalankan tugas pekerjaannya dengan sungguh-sungguh serta mengharap pahala dari Allah, maka telah berhak baginya untuk mendapatkan upah amalannya di dunia serta mengusung pahala di negeri akhirat.

2. Menjaga Jam Kerja Untuk Meningkatkan Kualitas Kerja

Wajib bagi setiap pegawai atau karyawan untuk menggunakan jam kerjanya untuk menjalankan tugas khusus yang telah dibebankan pada dirinya, sehingga dia tidak menyibukkan diri pada jam kerja tersebut dengan urusan lain selain tugas yang wajib ia kerjakan. Demikian pula wajib baginya untuk tidak menyalahgunakan jam kerja untuk untuk kepentingan pribadi tanpa seijin atasan. Sebab jam kerja bukanlah milik pegawai/karyawan, bahkan jam kerja tersebut semestinya digunakan untuk meningkatkan kualitas kerja yang dia mengambil upah darinya sebagai imbalan.

Al Mu'ammar Al Baghdadi, salah seorang ‘alim pernah memberikan wejangan dan nasihat yang bermanfaat kepada para pejabat sipil di masanya, di antara yang beliau ucapkan di awal nasihat tersebut adalah:
"Sudah menjadi perkara yang maklum, bahwasanya salah seorang rakyat memiliki pilihan dalam urusan mereka sendiri, apabila mereka mau, mereka meneruskan dan apabila mau, mereka bisa menghentikan. Adapun orang yang memegang wilayah, sama sekali tidak memiliki kebebasan dalam keinginan dan pelaksanaan. Sebab siapa yang diangkat sebagai pemimpin, pada hakekatnya dia adalah pegawai, dia telah menjual waktunya dan telah mengambil harganya, sehingga tidak tersisa lagi baginya dari siangnya waktu untuk melakukan sesuatu sesuai dengan pilihannya, tidak ada waktu baginya untuk shalat nafilah dan tidak pula untuk masuk i'tikaf ..., sebab hal itu hanyalah tambahan, sedangkan ini (yakni tugas yang ia emban) adalah kewajiban yang pasti." [Dzail Thaqabat Al-Hanabilah karya Ibnu Rajab (1/107)].

Sebagaimana manusia senang mengambil upahnya dengan penuh dan sempurna serta tidak suka apabila dikurangi sedikit saja begitu pula wajib baginya untuk tidak menyalahgunakan jam kerja untuk mengurusi selain pekerjaannya.

3. Menentukan Kriteria yang Tepat dalam Memilih Pegawai

Asas utama dalam memilih setiap pegawai/karyawan adalah hendaknya orang tersebut adalah orang yang mampu/kuat dan terpercaya. Dengan kekuatan dia akan mampu menyelesaikan pekerjaan yang dituntut darinya. Dan dengan amanah/terpercaya, dia akan meletakkan setiap perkara pada tempatnya masing-masing.

Sedangkan lawan dari kekuatan dan amanah adalah kelemahan dan khianat, keduanya merupakan asas dasar untuk tidak menunjuk/mengangkat seseorang menjadi pegawai/karyawan dan sekaligus menjadi alasan mendasar untuk menurunkan seseorang dari jabatan/pekerjaan.

4. Pegawai Senior Menjadi Teladan dalam Kesungguhan atau Kemalasan Pegawai Baru

Apabila pegawai-pegawai senior mampu menjalankan kewajibannya dengan lengkap dan sempurna, niscaya akan ditiru oleh pegawai-pegawai baru serta menjadi teladan yang baik. Setiap pemimpin dalam pekerjaan akan dimintai pertanggungjawaban atas dirinya dan kepemimpinannya. Berkata seorang penyair:

Kapan saja kamu mengerjakan apa yang kamu perintahkan
Niscaya akan disusul oleh orang yang kamu perintah dengan segera

Maknanya: apabila kamu memerintahkan kepada orang lain yang berada di bawahmu untuk menjalankan kewajibannya dan kamu mendahuluinya dengan menjalankan kewajiban tersebut, maka orang lain akan menyambutmu dan menjalankan apa yang kamu perintahkan.

5. Seorang Pegawai Harus Menjaga Kehormatan Diri dan Tidak Mau Mengambil Suap atau Hadiah serta Melakukan Korupsi

Wajib bagi setiap pegawai untuk senantiasa menjaga kehormatan dan kesucian diri, memiliki jiwa mulia, serta jauh dari perbuatan memakan harta manusia dengan cara yang batil, dari "suap" yang diberikan kepadanya meskipun dinamakan dengan "hadiah", serta tindakan korupsi dan penggelapan uang. Sebab apabila dia mengambil harta manusia tanpa cara yang benar berarti dia telah memakan harta tersebut dengan cara yang batil. Sedangkan memakan harta orang lain dengan cara yang batil merupakan sebab tidak dikabulkannya doa.

Tidak ada satu dalilpun dalam agama ini yang menghalalkan perilaku jelek semacam ini. Di dalam Islam, hal ini adalah perbuatan yang sangat tercela. Rasulullah bersabda:

Siapa saja yang kami beri amanah mengerjakan sesuatu kemudian kami beri upah, namun setelah itu dia mengambil (selain dari upahnya), maka itu termasuk ghulul/korupsi." (Shahih, HR. Abu Dawud)

Jundub bin ‘Abdillah pernah berkata: "Sesungguhnya organ manusia yang paling dulu membusuk adalah perutnya. Oleh sebab itu, barangsiapa yang mampu untuk tidak makan kecuali yang baik, lakukanlah! Barangsiapa yang mampu untuk tidak terhalang antara dirinya dengan surga disebabkan segenggam darah yang ia alirkan, maka lakukanlah!" [Shahih Bukhari no. 7152]

Iyadh bin Ghanam, seorang gubernur di masa Umar bin Al-Khathab pernah berkata: "Demi Allah, Tubuhku dibelah dengan gergaji lebih aku sukai daripada mengkhianati (korupsi) uang atau menggelapkannya."

Lihatlah orang terdahulu kita yang sangat teguh dalam menggenggam amanah! Tidakkah kita para pegawai di jaman ini merasa malu bila lalai dalam perkara ini???

Pada akhirnya, semoga tulisan yang ringkas ini bisa menjadi menjadi bahan instrospeksi bagi kita -terkhusus kepada para pegawai-untuk menjadi lebih baik, serta menjadi pendorong untuk senantiasa mengikhlaskan niat serta bersungguh-sungguh dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan. Wallahu a'lam

 

Sumber bacaan:
-Kaifa Yuaddi Al-Muwadhifu Al Amanah, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad

* (Penulis adalah orang yang masih belajar untuk menjadi pegawai amanah)