BERITA

Kajian Fiqih Sakit dan Penyakit Bersama Ustadzah Herlini Amran di Direktorat Jenderal Perbendaharaan

JAKARTA – Direktorat Jenderal Perbendaharaan kali ini dimotori oleh Direktorat Sistem Informasi dan Teknologi Perbendaharaan bersama dengan Majelis Taklim Tazkiyatun Nufus kembali mengadakan kajian khusus Dharma Wanita dan karyawati. Acara ini sudah rutin dilaksanakan di lingkungan Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Di penghujung tahun ini, kajian diisi oleh seorang uztadzah kelahiran Bekasi. Menyelesaikan kuliah pascasarjana di Pakistan, pastilah membuat ustadzah yang mempunyai nama Herlini Amran ini sangat siap menyampaikan tausiah dan berbagi pengalaman bersama para jamaah.

Kajian pada Jumat (14/12/18) pagi itu mengusung tema Fiqih Sakit dan Penyakit. Tema ini sangat bermanfaat bagi para jamaah karena kehidupan tidak terlepas dari sakit atau penyakit. Terlebih, di bulan Desember ini, sedang memasuki fase pergantian musim yang sering kali membuat daya tahan tubuh turun dan terserang virus penyebab penyakit. Di zaman yang serba online saat ini mudah untuk mendapatkan video – video pengajian, tetapi kajian dengan tatap muka langsung masih sangat diperlukan. Mengingat kebutuhan rohani akan ilmu – ilmu agama harus terus diperkuat, kajian ini mengingatkan jamaah untuk senantiasa bersyukur dan menjadikan sakit menjadi ladang pahala.

Kajian yang dilaksanakan di Gedung Prijadi Praptosuhardjo, diikuti oleh para karyawati serta istri pejabat/pegawai Direktorat Jenderal Perbendaharaan, salah satunya, Nihayatun Ulfa, istri dari Kepala KPPN Khusus Penerimaan, Moch Abdul Kobir. Tidak ketinggalan, karyawati On The Job Training lulusan PKN STAN didorong untuk turut hadir untuk mewakili KPPN Khusus Penerimaan. Acara dimulai pukul sembilan pagi dan berakhir menjelang shalat Jumat memudahkan jamaah yang hendak menyempatkan diri hadir di sela – sela kesibukan pekerjaan kantor.

Banyak hal yang disampaikan oleh Ustadzah Herlini, salah satunya, sakit merupakan cara Allah menghapuskan dosa hamba-Nya apabila si penderita tidak mengeluh dan mensyukuri keadaan. Jadi, sakit adalah nikmat ketika dijalani dengan ikhlas, tetapi tetap harus berusaha untuk berobat ke dokter.

“Jangan pernah mengeluh, hadapi semua dengan penuh kesabaran dan ketaatan kepada Allah,” demikian pesan Ustadzah Herlini.

Dilanjutkan dengan sesi tanya jawab di akhir pengajian, membuat jamaah semakin paham dengan materi yang disampaikan. Setelah acara kajian, terdapat sesi foto bersama ustadzah dan jamaah untuk kenang – kenangan. Penjual kaos kaki, tupperware, dan alat – alat dapur dapat ditemukan di luar ruangan kajian yang menawarkan barang dengan variasi yang cukup banyak. Harganya pun bervariasi, mulai dari sepuluh ribu rupiah sampai dengan ratusan ribu rupiah. Ilmu agama dapat, keperluan rumah tangga pun juga siap dibeli untuk dipakai di rumah.

Acara seperti ini sangat penting di lingkungan kantor. Selain meningkatkan kualitas iman dan takwa, juga menambah keakraban dan rasa toleransi yang tinggi antarpegawai. Tentunya, hal ini mendukung suasana kerja yang lebih nyaman, produktif, dan kondusif. Untuk itu, kajian seperti ini harus lebih digiatkan dan diagendakan agar terus ada bahkan menjadi kebiasaan yang baik. Yang tidak kalah penting, para istri pimpinan harus memberi contoh untuk hadir, dan para pimpinan selalu mendorong istri pegawai serta karyawati untuk menghadiri acara seperti ini. (Eka)